Rabu, 27 Agustus 2008

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMUR KUPING MERAH ( Auricularia yudae) PADA BAGLOG ALANG-ALANG

Jurnal Natur Indonesia III (2):113 – 120  (2001)
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMUR KUPING
MERAH ( Auricularia yudae) PADA BAGLOG ALANG-ALANG
 
Abdul Karim Parlindungan
Fakultas Pertanian Universitas Riau
 
Diterima tanggal : 15 – 2 – 2001  Disetujui tanggal : 23 – 3 - 2001
 
ABSTRACT
 
A study has been conductet  to probe the growth and production of
the red jelly mushroom ( Auricularia yudae) on Imperata
cylindrica baglogs. Four baglogs were prepared to observe the the
following  parameters i.e The growth rate ; The time required for
the pinheads to show up; The time required for the first and the
last harvest , the number of fruiting body, the maximum cap width
and the weigth of the friuting bodies obtained from each harvested.
The biological efficiency ratio were also calculated . The observed 
data were then analyzed descriptively resulting a good growth and
production characteristics of the red jelly mushroom on the I.
cylindrica baglogs as an  alternative culturing substrat.    
 
Key words:  Auricularia yudae, Red jelly mushroom, growth,
Production
 
PENDAHULUAN
Jamur kuping merupakan salah
satu jamur kayu yang telah dibudi-
dayakan semenjak tahun 600.
Secara alami jamur ini hidup soliter
atau bergerombol pada batang kayu,
ran-ting mati dan tunggul kayu.
Jamur ini hidup melekat pada
substrat kayu keras dan konifer yang
muncul pada musim hujan. Dalam
keadaan segar tubuh buahnya
kenyal atau seperti gelatin dan
menjadi keras seperti  tulang jika
kering. Bentuknya seperti mangkok
ataupun kuping yang ber-diameter
2-15 cm. Tangkai tidak ada atau
mengalami rudimentar (Guna-wan;
2000). Jamur kuping selain di-
konsumsi untuk makanan juga ber-
khasiat sebagai obat. Sebagai maka-
nan jamur ini mengandung 18 ma-
cam asam amino; sembilan meru-
pakan asam amino esensial. Jamur
kuping mengandung bahan anti
virus dan tumor dan dipergunakan
untuk mengobati hipertensi, asma
dan he-patitis. Selain itu juga dapat
menu-runkan kolesterol darah dan
meru-pakan tonik ginjal. Adapun
pangsa pasarnya adalah negara Asia  
 
114
yang banyak didiami penduduk
etnis Cina terutama di kawasan
Cina, Hong-kong, Singapura dan
Malaysia. Di Indonesia jamur ini
baru mulai dibu-didayakan setelah
tahun 1980. Budi-daya jamur ini
pada umumnya meng-gunakan
baglog serbuk gergaji dan log tanam
batang kayu yang disim-pan di
ruangan bersuhu 28-300
C de-ngan
kelembaban relatif (RH) 90%.
Panen  pertama dapat dilakukan  2-3
bulan setelah baglog serbuk gergaji
diinokulasi dengan bibit jamur dan 5
bulan pada log batang kayu. Masa
panen untuk baglog serbuk gergaji
dapat mencapai 1-2 bulan secara
terus menerus dengan interval
waktu 1-2 minggu, sedangkan untuk
log batang kayu mencapai 3-4
bulan. Hasil budidaya jamur kuping
pada kedua bentuk substrat tumbuh
diatas dapat mencapai 300-650 gram
per-log dengan ratio efisiensi
biologi 30-65 (Suriawiria, 2000). Di
beberapa daerah di Indonesia
meskipun kondisi lingkungan (suhu
dan kelem-baban ) memenuhi
persyaratan untuk budidaya jamur
kuping namun sub-strat serbuk
gergaji tidak dapat di-peroleh sama
sekali. Oleh karena itu untuk
membudidayakannya di tem-pat
tersebut  perlu dicarikan substrat
alternatifnya. Salah satu substrat
alternatif tersebut adalah alang-
alang (Imperata cylindrica) yang
merupa-kan tumbuhan kosmopolit
yang ter-dapat di seluruh nusantara.
Menurut Suryani (1970) di luar
Pulau Jawa setiap tahunnya
bertambah 150.000 Ha padang
alang-alang. Selanjutnya Agoes
(1994); dan Nurman dan Abdul
Kahar (1984) menyatakan bahwa
alang-alang dapat dipakai untuk
media tanam jamur. Oleh karena itu
untuk mengetahui gam-baran
sebenarnya dari pada pertum-buhan
dan produksi jamur kuping merah
pada salah satu substrat alternatif
maka dilakukan penelitian ini. Hasil
penelitian ini mempunyai kontribusi
untuk  pemanfaatan alang-alang
yang banyak tumbuh di sekitar
lingkungan kehidupan kita sehingga
dapat memperbesar peluang untuk
membudidayakan jamur kuping tan-
pa tersedianya serbuk gergaji atau-
pun log batang pohon.
 
METODA PENELITIAN
Substrat alang-alang
dikumpul-kan dari lokasi sekitar
Kotamadya Pekanbaru. Kaptan
(CaCO3), TSP dan Gips (CaSO4)
dibeli dari pasar Kodya Pekanbaru.
Bibit jamur kuping merah dibeli dari
PT.Esa Genangku di Jakarta
 
 
115
 
 
Penyiapan baglog alang-alang
dan penanaman.
Alang-alang dipotong sepan-
jang 12.0 cm dan dikeringkan
sampai daunnya berwarna coklat
muda. Ke-mudian dimasukkan ke
dalam kan-tong plastik tahan panas 
sampai agak padat sehingga menjadi
baglog.  Selanjutnya masing masing
baglog tersebut diisi dengan 1 liter
air ren-daman yang mengandung
1% TSP, !% Kaptan dan 1% Gips.
Peren-daman dilakukan selama 48
jam. Se-telah itu dilakukan penirisan
dengan cara membalikkan baglog
sehingga air rendaman yang tidak
diserap substrat tumpah keluar
kantong plas-tik. Kondisi seperti ini
dibiarkan selama 24 jam sampai
tidak ada lagi air rendaman yang
menetes keluar baglog. Kemudian
baru dipasang pipa pralon
berdiameter 2,5 cm untuk membuat
mulut baglog yang ditutup dengan
kapas dan dipasang lembaran kertas
koran berukuran 10 x 10 cm dan
diikat dengan karet ge-lang. Baglog
disterilisasi dengan me-ngukusnya
di dalam dandang alumi-nium
berdiameter 52 cm dan tinggi-nya
80 cm. Pengukusan dilakukan
selama 10 jam terhitung semenjak
terbentuknya uap panas. Inokulasi
baglog dengan satu sendok teh bibit
jamur dilakukan secara aseptis
setelah baglog didinginkan selama
24 jam pada kondisi ruangan.
Semua baglog selanjutnya
diinkubasi di dalam ruangan yang
sudah disanitasi dengan Lysol.
Apabila seluruh permukaan bagian
dalam baglog su-dah ditumbuhi oleh
misellium jamur yang berwarna
putih maka dilakukan penanaman
dengan cara membuka kantong
plastik sepanjang 1/3 bagian dari
atas dan 1/3 bagian dari bawah
baglog . Baglog yang sudah dibuka
tersebut dijaga kelembaban dengan
melakukan penyemprotan 3 jam
sekali mulai pukul 06.00 pagi
sampai dengan pukul 18.00 sore.
Pada ma-lam hari tidak dilakukan
penyem-protan. Penyemprotan
dilakukan setiap hari dengan sprayer
sampai panen terakhir. Apabila
calon jamur kuping sudah muncul
maka dihitung jumlah hari yang
diperlukan sampai saatnya jamur
dapat dipanen. Ber-dasarkan kriteria
yang diberikan oleh Muchroji dan
Cahyana (2000) maka jamur  kuping
dapat dipanen apabila pinggir
tudungnya sudah mulai me-ngerut
dan menipis.   
 
Pengamatan  
 
116
Empat baglog alang-alang
telah disiapkan untuk menjajagi
karakte-ristik pertumbuhan dan
produksi jamur kuping merah.
Parameter yang diukur meliputi 1.
Kecepatan per-tumbuhan miselium
(hari) untuk me-nyelimuti seluruh
permukaan bagian dalam baglog 2.
Waktu (hari) yang diperlukan untuk
munculnya calon jamur kuping 3.
Waktu (hari) yang diperlukan untuk
panen pertama sampai panen
terakhir. 4. Jumlah badan buah yang
diperoleh setiap panen 5. Lebar
(cm) tudung maksi-mal daripada
setiap panen 6. Pro-duksi jamur
kuping (gram) setiap panen. 7. Ratio
Efisiensi Biologi daripada baglog
alang-alang.
 
Analisis data
Untuk mendapatkan gambaran
karaketristik tersebut maka data ma-
sing-masing parameter diolah secara
statistik diskriptif. 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN.
1. Kecepatan  pertumbuhan  mise-
lium (hari) untuk meyelimuti
seluruh permukaan bagian dalam
baglog. 
Hasil observasi menunjukkan
bahwa di dalam waktu 30 hari
semua permukaan bagian dalam
baglog alang-alang telah diselimuti
oleh mi-selium yang berwarna
putih. Feno-mena tersebut
menunjukkan bahwa  baglog alang-
alang merupakan sub-strat yang
cocok untuk pertumbuhan jamur
kuping merah. Secara umum
kecepatan pertumbuhan jamur ku-
ping pada substrat serbuk gergaji
adalah 2-3 bulan dan pada log ba-
tang adalah 5 bulan (Suriawiria,
2000) .
 
2. Waktu (hari ) yang diperlukan
untuk munculnya calon  jamur
kuping.
Semua baglog alang-alang telah
menunjukkan calon badan buah
jamur kuping yang berbentuk jonjot
jonjot berwarna coklat kehitaman
dalam waktu tujuh hari semenjak
penanaman. Waktu yang diperlukan
tersebut menyamai waktu yang
dike-mukakan oleh Suriwiria,
(2000) yaitu 3-7 hari pada baglog
serbuk gergaji. 
 
3.Waktu (hari) yang diperlukan
untuk panen pertama sampai
panen terakhir.
Panen dilakukan sesuai dengan
kriteria yang telah dikemukakan di
atas. Adapun tanggal panen (P)
yang dilakukan adalah sbb: P
pertama (I) pada tanggal (tgl) : 4
Agustus 2000; P(II) pada tgl : 11-
 
117
08-00; P (III) pada tgl: 17-08-00; P
(IV) pada tgl: 24-08-00; P (V) pada
tgl:01-09-00 dan P(VI) pada tgl: 11-
09-00. Para-meter karakteristik
jamur kuping pada baglog alang-
alang menunjuk-kan bahwa waktu
rata-rata yang di-perlukan untuk
dapat memanen pa-nen jamur
kuping pada baglog alang-alang
rataannya adalah tujuh hari  sampai
panen ke lima. Untuk panen ke
enam atau terakhir ternyata wak-
tunya adalah 10 hari. Dengan demi-
kian dapat diperoleh gambaran bah-
wa waktu panen pertama jamur ku-
ping pada baglog alang-alang adalah
37 hari setelah baglog diinokulasi
dengan bibit jamur dan interval
wak-tu panennya 7 hari sekali
sampai pa-nen kelima dan 10 hari
untuk panen keenam. Adapun
karakteristik yang digambarkan oleh
Suriawiria, (2000) adalah 60-90 hari
untuk panen per-tama jamur kuping
pada baglog ser-buk gergaji  dan
150 hari pada log batang kayu..  
 
4. Jumlah badan buah yang di-
hasilkan dari setiap kali panen.
Adapun rataan jumlah badan
buah jamur kuping merah yang
dihasilkan  mulai dari panen
pertama sampai panen keenam
menunjukkan kecendrungan
penurunan jumlahnya (Gambar 1).
Panen pertama jumlah-nya paling
banyak yaitu 42  ± 3.74 buah
sedangkan panen ke enam jumlah
panen hanya 3.25  ± 2.63 bu-ah.
Fenomena ini adalah logis karena
makin tua umur jamur yang telah
tumbuh pada suatu substrat maka
makin menurun kemampuan
metabo-lismanya dan sejalan pula
dengan makin berkurangnya
ketersediaan nutrisi yang dikandung
substrat. 
 
5. Lebar tudung (cm) maksimal
yang diperoleh dari setiap kali
panen.
Hasil pengukuran lebar tudung
maksimal badan buah mulai panen
pertama sampai panen keenam
menunjukkan suatu nilai naik turun
yang tidak teratur. Hal tersebut
cukup jelas seperti yang dapat
dilihat Gambar 2. Panen pertama
mengha-silkan lebar tudung
maksimal 8.6  ± 0.497 sedangkan
panen ke lima diha-silkan lebar
maksimal 12.45 ± 1.22 cm dan pada
panen ke dua dihasilkan maksimal
7.48 ± 0.750 cm. Dengan demikian
tidak ada alasan untuk me-ngatakan
bahwa pada panen pertama akan
menghasilkan lebar tudung yang
paling maksimal dan panen terakhir 
 
118
lebar tudung maksimalnya paling
kecil.  
 
 
 
 
 
 
 
6.  Berat badan buah (gram) yang
dihasilkan dari setiap kali
panen
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Jml Badan Buah
Panen 1 Panen 2 Panen 3 Panen 4 Panen 5 Panen 6
 
Gambar 1.   Jumlah badan buah (jmlh BB) jamur kuping merah dari panen
pertama sam-pai dengan panen keenam
0
2
4
6
8
10
12
14
Lebar Tudung (cm)
Panen 1 Panen 2 Panen 3 Panen 4 Panen 5 Panen 6
 
Gambar 2.   Lebar tudung maksimal (Lbr.Tdg) yang dihasilkan dari pada
panen pertama sampai dengan keenam 
0
10
20
30
40
50
60
70
Berat Badan Buah
(gram)
Panen
1
Panen
3
Panen
5
 
Gambar 3.  Berat  badan  buah  (BB)  yang diperoleh dari panen pertama
sampai dengan panen keenam 
 
119
Tabel 2. Ratio Efisiensi Biologi (REB)  baglog alang-alang
Baglog  Berat (gram)  Produksi jamur (gram)  REB
1
2
3
4
735
763
757
815
398.4
359.9
273.1
277.1
54.20
47.16
36.07
34.00
Total
Rataan
SD
3070.00
707.50
33.88
1308.50
327.13
62.12
171.43
42.86
9.52
Seperti halnya untuk parameter
lebar tudung maksimal maka berat
badan buah yang dihasilkan dari
panen pertama sampai dengan panen
keenam naik turunnya juga tidak
beraturan. Fenomena tersebut dapat
dilihat secara jelas pada Gambar 3.
Ternyata pada panen pertama
diperoleh badan buah seberat  64.63
± 22.63 gram  yang berarti lebih
ringan dari panen ke-lima seberat
65.45  ± 9.9 gram. Pada panen ke-
lima tersebut secara logika berat ba-
dan buah yang dihasilkan
sewajarnya adalah lebih ringan dari
panen keempat (49.13.± 20.99)
gram tetapi di dalam kenyataannya
dihasilkan lebih berat. Gambaran ini
mendekati fenomena lebar tudung
terlebar yang dihasilkan dari setiap
kali panen dengan kofisien korelasi
(r) sebesar 0.62 yang berarti bahwa
terdapat hubungan yang kuat antara
kedua parameter tersebut.
Selanjutnya fe-nomena yang
merefleksikan ketidak teraturan
pada kedua parameter ini dapat
disebabkan oleh adanya  peru-bahan
kondisi lingkungan (suhu dan
kelembaban) pada masa pertumbu-
han badan buah sebelum panen
kelima dilakukan. 
 
7. Rasio efisiensi biologi (REB)
baglog alang-alang. 
Hasil perhitungan yang tercantum
pada Tabel 2 memperlihatkan REB
baglog alang-alang untuk jamur ku-
ping merah adalah sebesar 42.86  ±
9.52. Menurut Suriawiria, (2000)
REB jamur kuping pada baglog ser-
buk gergaji adalah 30 - 65. Selain
substrat pertumbuhan banyak faktor
penentu yang dapat mempengaruhi
nilai REB tersebut yaitu keadaan
lingkungan, bibit, ada tidaknya se-
rangan hama dan penyakit.
 
 
 
KESIMPULAN.
Semua parameter yang
diobser-vasi di dalam kajian ini
menggambar-kan suatu karakteristik
pertumbuhan dan produksi jamur
kuping merah yang baik pada 
 
120
baglog alang-alang sehingga dapat
menjadi pendorong untuk
melakukan budidaya jamur tersebut
di lokasi yang tidak mudah
memperoleh serbuk gergaji.
 
DAFTAR PUSTAKA.
 
Dina, A.S. 1994. Media Tanam Dan
Penggunaannya. Penebar Swa-
daya
 
Gunawan,A.W. 2000. Usaha Pembi-
bitan Jamur. Penebar
Swadaya.
 
Muchroji dan Cahyana,YA. 2000.
Budidaya Jamur Kuping.
Kani-sius Yogjakarta
 
Nurman,S dan Abdul Kahar. 1984.
Bertani Jamur dan Seni Mema-
saknya. Angkasa. Bandung.
 
Parlindungan ,A.K. 2000. Pengaruh
Konsentrasi Urea dan TSP Di
Dalam Air Rendaman Baglog
Alang-Aslang Terhadap Per-
tumbuhan dan Produksi Jamur
Tiram Putih (Pleurotus ostreo-
tus). Prosiding Seminar Hasil
Penelitian Dosen UNRI Tahun
2000
 
Parlindungan ,A.K. 2000. Perbandi-
ngan Pertumbuhan dan Pro-
duksi Jamur Tiram Kelabu
(Pleurotus sajor CAJU) Pada
Beberapa Medium Alternatif.
Jurnal Natur Indonesia III
(1): 39-46 (2000)
 
Soeryani, M., 1970. Alang-alang,
Imperata cylindrica (L)
Beauv., Pattern of growth as
related to its problem of
control. Biotrop Bull. No.1. 
 
Suriawiria, H.U. 2000. Sukses Ber-
agrobisnis Jamur Kayu- Shii-
take-Kuping –Tiram. Penebar
Swadaya .Jakarta. 
Blogged with the Flock Browser

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar